Minggu, 03 Oktober 2010

aku, kamu, hujan, dan persahabatan kita

hujan semakin deras. aku menatapmu dengan ragu. "haruskah keputusan ini yang kuambil?" tanyaku perlahan, nyaris terdengar seperti berbisik. "terserah kamu. ikuti kata hatimu, jangan perdulikan aku. pentingkanlah kebahagiaanmu." jawabmu sembari tersenyum. ah, indahnya. kamu berada disampingku, dan kita berpegangan erat selama hujan turun dengan derasnya. aku berbisik, "aku mau pilih kamu, tapi aku nggak tega nyakitin dia.." kamu terbelalak. kaget, mungkin. "lho? kok aku?" tanyamu heran. aku tersenyum. "aku, nggak mau kamu pergi. aku mau kamu disini, sama aku. tapi aku takut. takut jika aku memilih kamu, kalau suatu saat ada masalah diantara kita dan hubungan kita rusak, aku nggak mau persahabatan kita jadi korbannya.." kamu diam, matamu tampak menerawang jauh. "aku gak tau. aku gak tau harus gimana. aku.. masih suka sama kamu." ah, kamu mengucapkannya tanpa menatap langsung ke mataku. malu, eh?

akhirnya kita sama-sama terdiam. mungkin sudah mengerti satu sama lain, dan kata-kata itu tak perlu lagi terucap udara dingin berhembus, terasa menusuk tulang. dingin sekali rasanya. kamu melepaskan genggaman tanganmu pada tanganku, lantas melepas tasmu. mengambil jaket yang tersimpan didalamnya. "ini, pakai aja. aku nggak terlalu kedinginan kok. kamu keliatan kedinginan sekali." katamu, sembari membungkusku dengan jaket putihmu itu. "terimakasih. lain kali kubalas kebaikanmu ini, entah dengan apa." aku menatapmu, mengucapkan kata itu dengan sungguh-sungguh. tapi kamu malah terdiam. ada apa denganmu? kamu terlihat ragu, tak percaya dengan kata-kataku?

"itu, dia datang." katamu padaku. kutatap wajahmu. rahangmu tampak mengeras, dan tangan besarmu mengepal. "katakan padaku, jika suatu hari nanti dia menyakitimu lagi." kamu berkata dengan tegas dan tampak sungguh-sungguh. aku menatapmu bingung. dengan segera, kamu pergi. meninggalkanku sendiri disini. membiarkanku disini, menantinya tanpa kamu.

entah kenapa tiba-tiba rasa kangenku berubah menjadi nyata. menyergapku dalam ketidakberdayaan. seketika tubuhku lemas dan tak berdaya. entah ini nyata atau hanya ilusiku. tapi rasanya aku tanpa kamu, bukanlah seorang aku.

akhirnya dia datang. memelukku dengan penuh sayang. namun aku? hanya bisa terdiam. masih teringat jelas bayanganmu mendadak hilang dibalik hujan lebat yang melanda jakarta barusan ini. dan seketika, aku melepaskan pelukannya. berlari menuju ke arahmu. berlari meuju cinta.

dan kamu tak kutemukan. aku bagai tersesat dalam titian asa yang merunut hampa. dan aku akhirnya berhenti sejenak. bayangannya masih jelas terlihat disana. seakan menantiku untuk kembali. tapi aku? bertekad untuk tetap berlari mengejarmu. kemanapun kamu pergi.

dan akhirnya aku menemukanmu. sendiri, di bawah hujan yang menaungi kita berdua. seketika rasanya kegembiraanku membuncah. dadaku sesak dan kebahagiaanku tumpah. ingin rasanya aku memelukmu dan takkan lepaskanmu lagi. aku berlari kearahmu, dan kamu memelukku. seakan kamu sudah menantiku untuk berada disisiku lagi. "aku tau, persahabatan kita memang yang utama. tapi aku nggak bisa bohongin diri aku, kalau rasaku ini bukan sekedar sahabat biasa" kamu menatap mataku dan mengatakan kata-kata itu. rasanya aku ingin terbang, membagi kebahagiaanku bersama awan-awan gelap yang sedang menangis. "aku tau. tapi.." aku menggantungkan kata-kataku. "tapi?" cecarnya segera. "tapi aku juga ngerasain hal yang sama dengan kamu. hehehe" aku tertawa. dia malah merengut. "kamu bikin aku deg-degan tadi." "aku bercanda! " balasku segera. dia tersenyum. ah, aku sangat menyukai senyumnya. "makasih, udah mau sahabatan sama aku. entah kenapa sejak ada kamu, aku bisa ngerasain kebahagiaan yang dulu nggak pernah aku rasain.." lalu dengan satu gerakan sigap, ia memelukku. dalam diam, kurasakan hangat dekapannya. air mataku mulai menetes. "maaf, aku sempat kecewakan kamu dengan memilih dia. makasih, udah mau jadi hal yang indah buat kukenang suatu saat nanti" jawabku, setengah terisak. "maafin aku juga. aku sempet bikin kamu kecewa." dan aku mengangguk samar. tetesan hujan kurasa semakin deras. dan aku, menanti matahari disini bersamanya. hanya bersamanya.

dedicated to my wafer. andai aku bisa melukiskan senyum lagi diwajah manismu :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar