Hell-o!
raraynf staying here!
Selasa, 08 Maret 2011
menjamu rindu di arakan senja.
Sabtu, 26 Februari 2011
don't cry for me, argentina.
Rabu, 09 Februari 2011
new!
Kamis, 03 Februari 2011
arti hadirmu
Secangkir kopi telah tandas, menandakan isinya telah dihabiskan oleh pemiliknya. Lembaran-lembaran kertas bertebaran diatas kasur. Kertas itu berisikan berbagai gambar dan puisi yang dibuat hingga fajar nyaris menjelang. Selembar kertas terletak di sebelah mejanya. Kuputuskan untuk membaca kata demi kata yang tertuang didalamnya.
“Sekiranya cinta melukis bahagiamu malam ini. Aku inginkan ia setia mengampingi di setiap jejakmu. Menjagamu dari setiap luka yang coba mengecupmu. Kuasamu atas hatiku merambah belantara rindu yang tak putus putus menciumi titik pengakhirannya. Merunduk malu dalam hasrat yang bergegas tulus untuk mencintaimu. Tak lelah menapak dalam jejak yang tertatih-tatih menuju rumah hatimu.”
Selembar kertas jatuh di kakiku. Aku memungutnya, dan membaca kata demi kata yang tertuang dalam lembaran yang kini terlukiskan tinta biru itu.
“ inikah sebuah pertanda? Pertama kali tatapku yang bergulir nyata pada beningnya matamu, telah memasung bahagiaku tanpa ampun. Tak peduli seberapa lemah getar itu menyisir kalam batinku. Aku hanya tahu, ada rindu yang kujaga untukmu.
Sampai detik ini, gersang dambaku merajuk senyao di tempias lugu sapamu. Terpendar mencipta bintang yang membiaskan terang pada teduh bola matamu. Tiba-tiba, rinduku begitu telak menusuk kesendirianku. Membawa anganku bergerak membingkai wajahmu seketika. Detik ini, tak ada yang kuinginkan selain menatap derai indah tawamu.
Mestinya, tak kubenamkan segala damba padamu. Tapi apa daya, perjumaan sesaat yang meyekat sapaku terkurung di ruang hatimu, telah menggiring mataku luluh dalam rindu. Tiba-tiba menjelma nyata, memaksaku takluk dalam cinta yang menyulut bahagia baru.
Biarpun sepi tak usai dan terus menyergap sadarku dari keterasingan. Tapi setidaknya aku mulai sadar... rinduku pun tak juga usai. Merapal namamu dari jerit ketakutanku. Menyesatkan cintaku yang tak surut memamah usai. Mencatut hatimu menjadi satu-satunya yang terindah.. untukku! Apakah ini nyata atau.. semu? Apakah ini janji atau sekedar ilusi? Hanya palung batinmu yang mampu mengurai. Aku hanya mengibar bendera tanda, selebihnya dirimulah yang mesti mengulur bening talinya, untukku...
Dan, biarkanlah ini menjadi cinta, jika ini adalah segenap rasaku yang berbicara. Biarkan ini menjadi nyata, jika ini adalah hatiku yang menjadi jembatannya. Biarkanlah ini menjadi bahagia, jika ini adalah jalannya. Biarkan bahagia itu sendiri yang mengurai segala warasku menjadi ada. Yang pasti, bahagiaku ini ada untuk jadi nyata, bukan sia-sia...”
Aku tersenyum. Lalu memungut kertas kedua.
“ Kau hadir
Dengan segala tingkah lugumu
Memasungku dalam gugusan asa baru,
Mengharap rindu menusukku lagi.
-boleh nggak aku kangen? “
aku terhenti untuk membacanya. Sebuah senyum geli muncul di wajahku. Entah mengapa tulisan ini terasa sangat polos.
“jujur harus kuakui, kau tiba-tiba datang disaat aku tengah menggangtungkan harapan diatas tungku yang tak lagi berapi. Terkikis longsor sepi yang mengendap di bebatuan. Ini memang suatu keajaiban. Hadirmu menyalakan tungku yang kudiami, yang memang perlahan mulai padam. Panasnya mulai menyengat, hingga aku mulai kegerahan. Gerah yang amat sangat, karna berbalut rindu melesat di lubuk hatiku yang mengerontang. Berbaju pengharapan yang mengencus di sudut matamu yang membiru. Berlapis cinta mawar yang menebar harum di tanah memerah. Berlebihankah aku memaknai hadirmu? Aku tak peduli. Yang pasti, saat ini, aku butuh yang namanya ketenangan, setelah sekian lama aku dililit resah dan gundah dalam penantian semu.
Aku mungkin salah terlalu mencari ketenangan itu dengan menggebu-gebu. Padahal, tidak seharusnya aku melakukan itu. Benarkah ketenangan itu harus dicari di suatu tempat, di suatu masa? Padahal tubuh punya hati yang tak terbatas ruang dan waktu. Mungkin jawabnya, ya. Kadang hati pun butuh rekreasi : jeda sesaat dari hiruk pikuk emosi yang membakar nalar sesaat. Mungkin ada baiknya aku menyingkir sejenak. Bersama bulan dan bintang di suatu tempat, di suatu masa, di mana tatap mata tak lagi memandangku dengan senyum mencibir atau sapa hangat melenakan. Sendiri dibaui hening, mencipta tanpa batas: di suatu tempat, di suatu masa.
Lalu dimana tempat yang ingin kupijak? Kapan juga masa memelukku dengan aneka puisi keindahan? Aku yakin, aku punya hati yang selalu ada dalam adaku. Disitulah aku seharusnya menemukan ketenangan.
Maka, izinkanlah aku kini menjadikanmu jembatan untuk rindu dan cinta baruku. Karena ternyata, padamu kutemukan ketenangan yang terpendar lugu. Ah, baru setahun mengenalmu. Kok tiba-tiba aku ingin terus berada didekatmu?”
Lukisan kata-kata itu akhirnya terhenti ketika kertas tiada lagi menyimpan tempat kosong untuknya merangkai kata-kata indah yang akhirnya terangkum dalam barisan huruf-huruf. Kulihat anak itu, yang membuat kata-kata ini menjadi indah. Matanya tertutup, nafasnya teratur. Rupanya ia sedang tertidur. Aku merendahkan tubuhku, tanganku berusaha menggapai sebuat kertas kosong yang ternyata masih tersisa satu, di sebelah sebuah bolpoin biru, tepat disebelah ranjangnya. Aku tersenyum, sebelum akhirnya menuliskan kata-kata yang kuharapkan dapat mengobati kerinduan dan kegalauan hati gadis kecil itu.
“ karena kita berbeda, makanya aku percaya kita saling cinta.”
Hanya sesingkat itu. Tapi aku harap, pagi menyambutnya dengan secercah senyum yang merekah pada wajah cantik dengan pipi yang bersemu merah itu.
There’s always a simple joy sdelining my anxiety every time i see your smile, happines just comes to bring passionate longing.. and its only for you!
Jakarta, 29 September 2010
Di batas mimpi yang membawaku menemui arti hadirmu J
arti hadirmu
Secangkir kopi telah tandas, menandakan isinya telah dihabiskan oleh pemiliknya. Lembaran-lembaran kertas bertebaran diatas kasur. Kertas itu berisikan berbagai gambar dan puisi yang dibuat hingga fajar nyaris menjelang. Selembar kertas terletak di sebelah mejanya. Kuputuskan untuk membaca kata demi kata yang tertuang didalamnya.
“Sekiranya cinta melukis bahagiamu malam ini. Aku inginkan ia setia mengampingi di setiap jejakmu. Menjagamu dari setiap luka yang coba mengecupmu. Kuasamu atas hatiku merambah belantara rindu yang tak putus putus menciumi titik pengakhirannya. Merunduk malu dalam hasrat yang bergegas tulus untuk mencintaimu. Tak lelah menapak dalam jejak yang tertatih-tatih menuju rumah hatimu.”
Selembar kertas jatuh di kakiku. Aku memungutnya, dan membaca kata demi kata yang tertuang dalam lembaran yang kini terlukiskan tinta biru itu.
“ inikah sebuah pertanda? Pertama kali tatapku yang bergulir nyata pada beningnya matamu, telah memasung bahagiaku tanpa ampun. Tak peduli seberapa lemah getar itu menyisir kalam batinku. Aku hanya tahu, ada rindu yang kujaga untukmu.
Sampai detik ini, gersang dambaku merajuk senyao di tempias lugu sapamu. Terpendar mencipta bintang yang membiaskan terang pada teduh bola matamu. Tiba-tiba, rinduku begitu telak menusuk kesendirianku. Membawa anganku bergerak membingkai wajahmu seketika. Detik ini, tak ada yang kuinginkan selain menatap derai indah tawamu.
Mestinya, tak kubenamkan segala damba padamu. Tapi apa daya, perjumaan sesaat yang meyekat sapaku terkurung di ruang hatimu, telah menggiring mataku luluh dalam rindu. Tiba-tiba menjelma nyata, memaksaku takluk dalam cinta yang menyulut bahagia baru.
Biarpun sepi tak usai dan terus menyergap sadarku dari keterasingan. Tapi setidaknya aku mulai sadar... rinduku pun tak juga usai. Merapal namamu dari jerit ketakutanku. Menyesatkan cintaku yang tak surut memamah usai. Mencatut hatimu menjadi satu-satunya yang terindah.. untukku! Apakah ini nyata atau.. semu? Apakah ini janji atau sekedar ilusi? Hanya palung batinmu yang mampu mengurai. Aku hanya mengibar bendera tanda, selebihnya dirimulah yang mesti mengulur bening talinya, untukku...
Dan, biarkanlah ini menjadi cinta, jika ini adalah segenap rasaku yang berbicara. Biarkan ini menjadi nyata, jika ini adalah hatiku yang menjadi jembatannya. Biarkanlah ini menjadi bahagia, jika ini adalah jalannya. Biarkan bahagia itu sendiri yang mengurai segala warasku menjadi ada. Yang pasti, bahagiaku ini ada untuk jadi nyata, bukan sia-sia...”
Aku tersenyum. Lalu memungut kertas kedua.
“ Kau hadir
Dengan segala tingkah lugumu
Memasungku dalam gugusan asa baru,
Mengharap rindu menusukku lagi.
-boleh nggak aku kangen? “
aku terhenti untuk membacanya. Sebuah senyum geli muncul di wajahku. Entah mengapa tulisan ini terasa sangat polos.
“jujur harus kuakui, kau tiba-tiba datang disaat aku tengah menggangtungkan harapan diatas tungku yang tak lagi berapi. Terkikis longsor sepi yang mengendap di bebatuan. Ini memang suatu keajaiban. Hadirmu menyalakan tungku yang kudiami, yang memang perlahan mulai padam. Panasnya mulai menyengat, hingga aku mulai kegerahan. Gerah yang amat sangat, karna berbalut rindu melesat di lubuk hatiku yang mengerontang. Berbaju pengharapan yang mengencus di sudut matamu yang membiru. Berlapis cinta mawar yang menebar harum di tanah memerah. Berlebihankah aku memaknai hadirmu? Aku tak peduli. Yang pasti, saat ini, aku butuh yang namanya ketenangan, setelah sekian lama aku dililit resah dan gundah dalam penantian semu.
Aku mungkin salah terlalu mencari ketenangan itu dengan menggebu-gebu. Padahal, tidak seharusnya aku melakukan itu. Benarkah ketenangan itu harus dicari di suatu tempat, di suatu masa? Padahal tubuh punya hati yang tak terbatas ruang dan waktu. Mungkin jawabnya, ya. Kadang hati pun butuh rekreasi : jeda sesaat dari hiruk pikuk emosi yang membakar nalar sesaat. Mungkin ada baiknya aku menyingkir sejenak. Bersama bulan dan bintang di suatu tempat, di suatu masa, di mana tatap mata tak lagi memandangku dengan senyum mencibir atau sapa hangat melenakan. Sendiri dibaui hening, mencipta tanpa batas: di suatu tempat, di suatu masa.
Lalu dimana tempat yang ingin kupijak? Kapan juga masa memelukku dengan aneka puisi keindahan? Aku yakin, aku punya hati yang selalu ada dalam adaku. Disitulah aku seharusnya menemukan ketenangan.
Maka, izinkanlah aku kini menjadikanmu jembatan untuk rindu dan cinta baruku. Karena ternyata, padamu kutemukan ketenangan yang terpendar lugu. Ah, baru setahun mengenalmu. Kok tiba-tiba aku ingin terus berada didekatmu?”
Lukisan kata-kata itu akhirnya terhenti ketika kertas tiada lagi menyimpan tempat kosong untuknya merangkai kata-kata indah yang akhirnya terangkum dalam barisan huruf-huruf. Kulihat anak itu, yang membuat kata-kata ini menjadi indah. Matanya tertutup, nafasnya teratur. Rupanya ia sedang tertidur. Aku merendahkan tubuhku, tanganku berusaha menggapai sebuat kertas kosong yang ternyata masih tersisa satu, di sebelah sebuah bolpoin biru, tepat disebelah ranjangnya. Aku tersenyum, sebelum akhirnya menuliskan kata-kata yang kuharapkan dapat mengobati kerinduan dan kegalauan hati gadis kecil itu.
“ karena kita berbeda, makanya aku percaya kita saling cinta.”
Hanya sesingkat itu. Tapi aku harap, pagi menyambutnya dengan secercah senyum yang merekah pada wajah cantik dengan pipi yang bersemu merah itu.
There’s always a simple joy sdelining my anxiety every time i see your smile, happines just comes to bring passionate longing.. and its only for you!
Jakarta, 29 September 2010
Di batas mimpi yang membawaku menemui arti hadirmu J
rapuh.
Secangkir latte hangat kini telah habis. Yang tersisa hanya buih dan beberapa sendok whipped cream di dasar cangkir. Aku mendesah, lelah. Sampai kapan aku harus merasakan ini? Berada dalam kehampaan hati. Tanpa arah, tanpa tujuan, hatiku berlabuh. Entah kepada siapa, entah kapan mendarat, yang kurasakan kini hanya hampa. Aku terdiam. Sudah berapa lama aku begini?
Perlahan kurasakan air mata meluncur cepat dipipiku. Aku menunduk, merasakan semakin lama air mata ini meluncur dengan derasnya. Ingin kutemukan seseorang yang sedia menemaniku di segala adaku. Mendekapku ketika aku bimbang, menyeka air mataku ketika aku bersedih, dan menjadi penenangku ketika aku diredam amarah. Isakanku perlahan memelan. Tangisku mereda, seiring hujan yang turun perlahan. Angin malam memabukkanku, membuatku ingin sekali melepaskan segala hal yang kurasakan kini. Namun sebisa mungkin aku tahan, ku kepalkan tanganku. Bunyi gemelutuk gigiku beradu dengan kepalan tanganku yang semakin mengeras. Semakin aku menahan perasaanku, semakin aku ingin berteriak. Akhirnya aku pasrah. Kepalan tanganku mengendur, rahangku mengeras, dan mataku terpejam. Aku merosot ke lantai. Perlahan tapi pasti, bahuku terguncang. Aku terpukul.
“rasanya begitu menyakitkan saat kamu berusaha untuk terlihat baik-baik saja ketika hatimu tidak berkata demikian. Saat aku merasa seperti itu, yang kuinginkan hanyalah sebuah pengertian dan pelukan hangat. Tapi tak kudapatkan itu. Aku berusaha enyahkan rasa sakitku, memasang senyum dan berusaha terlihat baik-baik saja. Tapi mereka tidak tahu, bahwa hatiku sakit,aku terluka. Hatiku hancur, dan takkan lagi bisa sempurna. Sekalipun seseorang membasuh luka itu, tetap, takkan sempurna. Dan yang kini aku hempaskan adalah rasa sakit yang menggelayuti hatiku, tak mau pergi. Tuhan, izinkan aku menangis malam ini..”
