Kamis, 03 Februari 2011

rapuh.

Secangkir latte hangat kini telah habis. Yang tersisa hanya buih dan beberapa sendok whipped cream di dasar cangkir. Aku mendesah, lelah. Sampai kapan aku harus merasakan ini? Berada dalam kehampaan hati. Tanpa arah, tanpa tujuan, hatiku berlabuh. Entah kepada siapa, entah kapan mendarat, yang kurasakan kini hanya hampa. Aku terdiam. Sudah berapa lama aku begini?

Perlahan kurasakan air mata meluncur cepat dipipiku. Aku menunduk, merasakan semakin lama air mata ini meluncur dengan derasnya. Ingin kutemukan seseorang yang sedia menemaniku di segala adaku. Mendekapku ketika aku bimbang, menyeka air mataku ketika aku bersedih, dan menjadi penenangku ketika aku diredam amarah. Isakanku perlahan memelan. Tangisku mereda, seiring hujan yang turun perlahan. Angin malam memabukkanku, membuatku ingin sekali melepaskan segala hal yang kurasakan kini. Namun sebisa mungkin aku tahan, ku kepalkan tanganku. Bunyi gemelutuk gigiku beradu dengan kepalan tanganku yang semakin mengeras. Semakin aku menahan perasaanku, semakin aku ingin berteriak. Akhirnya aku pasrah. Kepalan tanganku mengendur, rahangku mengeras, dan mataku terpejam. Aku merosot ke lantai. Perlahan tapi pasti, bahuku terguncang. Aku terpukul.

“rasanya begitu menyakitkan saat kamu berusaha untuk terlihat baik-baik saja ketika hatimu tidak berkata demikian. Saat aku merasa seperti itu, yang kuinginkan hanyalah sebuah pengertian dan pelukan hangat. Tapi tak kudapatkan itu. Aku berusaha enyahkan rasa sakitku, memasang senyum dan berusaha terlihat baik-baik saja. Tapi mereka tidak tahu, bahwa hatiku sakit,aku terluka. Hatiku hancur, dan takkan lagi bisa sempurna. Sekalipun seseorang membasuh luka itu, tetap, takkan sempurna. Dan yang kini aku hempaskan adalah rasa sakit yang menggelayuti hatiku, tak mau pergi. Tuhan, izinkan aku menangis malam ini..”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar