Sabtu, 02 Oktober 2010

aku digugat rasa rindu dan penyesalan

Terik mentari terasa menyengat,

Dan melelahkan.

Kamu, ada disini. Selalu disini.

Bersama aku, selalu bersama aku.

Perlahan kau genggam tanganku,

Menuntunku menuju puncak kebahagiaanku,

Membawaku bersambut dengan senyuman

Dan tawa.

Di tengah perjalanan, aku dilanda ragu yang teramat sangat.

Tapi kamu tetap ada disini, bersamaku.

Menggenggam tanganku, seakan tak rela lepaskanku.

Membuatku semakin jatuh kepadamu, bukan kepadanya.

Berkalikali kau yakinkan aku, kau baik-baik saja.

Tapi aku tak lihat itu di matamu,

Aku percaya kamu, sungguh.

Tapi bagaimana dengan dia?

Perlahan kau lepaskan genggaman tanganmu.

Aku terpaku, melihatmu berjalan menjauh.

Disebelahku kini ada dia, tapi dia tak menggenggam tanganku.

Dia hanya menatapku, hanya menatapku.

Perlahan aku berjalan menjauh darinya.

Berusaha yakinkan perasaanku, bahwa semua ini untukmu.

Hanya untukmu.

Jahanam, aku tak ingin memilih.

Langkahmu semakin dipercepat, membuatku kewalahan untuk berfikir.

Dengan tergesa aku memilih dia, bukan kamu.

Kamu berhenti, tersenyum kepadaku.

Lalu kau berlari. Meninggalkanku.

Malamnya, aku tersadar.

Rasa kangen ini begitu menggelitik jiwa.

Dusta yang kupendam ini terlalu besar, aku tak kuat menutupi semua rasa ini.

Sendiri.

Tapi terlambat.

Kamu sudah berjalan menjauh. Terlalu jauh untuk kugapai.

Tiba-tiba aku diserang rasa rindu yang teramat sangat.

Dan rasa bersalah, serta penyesalan muncul berikutnya.

Aku nggak sanggup,

Tanpa kamu, aku hampa.

Tanpa kamu, aku nggak bisa jadi seorang aku.

Kamu lengkapi aku. Kamu matahari setelah hujan turun menderaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar